Saturday, 25 December 2010

Dikala Surya dan Rembulan Memadu Cinta di Sawu

SAWU juga dikenal dengan sebutan Savu atau Sabu. Penduduk pulau itu sendiri menyebut pulau mereka dengan Rai Hawu, Tanah dari Hawu. Nama resmi yang digunakan oleh pemerintah setempat adalah Sabu. Orang Sawu menerangkan bahwa nama pulau itu berasal dari nama tokoh mitos Hawu Ga, yakni tokoh yang dianggap mula-mula mendatangi pulau tersebut.

Sekelompok pemain musik di pulau Sawu menunggu saat permulaan tarian

Sawu merupakan kepulauan yang terdiri dari 3 pulau, masing-masingnya ialah Sawu, yang terbesar dan terletak di timur, Raijua yang di tengah, dan sebuah lagi yang terkecil dan tidak ada penghuninya yaitu Dana, di sebelah barat.

Kepulauan Sawu bersama dengan pulau-pulau lain di seletan kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT), membentuk untaian pulau-pulau busur luar mulai dari Sumba, Raijua, Sawu, Ndao, Rote, Semau sampai ke Timor.

Di sebelah barat dan utara Kepulauan Sawu dikelilingi oleh Laut Sawu sedangkan di selatan dan timurnya terhampar Samudera Indonesia. Tanah Mahara terletak di barat Pulau Sawu. Mahara berbatasan dengan Tanah Haba dan Tanah Liae di sebelah timur, dengan Laut Sawu di utara dan di barat dengan Selat Raijua.

Iklim Sawu seperti juga iklim daerah sekitarnya ditandai oleh musim kemarau yang panjang (Maret sampai November) dan angka curah hujan yang relatif kecil. Pada gugusan pulau busur luar NTT dapat dibedakan keadaan alam yang agak kering di ujung barat dan ujung timur busur itu dibandingkan dengan keadaan alam di daerah yang terletak di sebelah selatan busur yang memang jauh lebih kering.

Ciri keadaan alam seperti itu nampak pula di Sawu, yang bagian utaranya relatif lebih hijau serta mempunyai sejumlah mata air, sedangkan bagian selatannya lebih kering dan tandus serta tidak mempunyai mata air yang berarti. Letak Sawu yang terpisah dan dikelilingi Laut Sawu dan Samudera Indonesia, mengakibatkan bahwa tanpa terhalang kepulauan ini menerima hembusan angin kencang yang mengandung kadar uap garam yang tinggi, baik pada awal musim hujan diakhir tahun dan awal bulan Januari maupun pada musim kemarau di sekitar bulan-bulan Juni dan Juli. Angin ini menghanguskan tanaman dan daun-daun pohon di sepanjang pantai barat dan pantai timurnya.

Hampir seluruh kepulauan ini diliputi bukit-bukit kapur dan tanah merah yang kurang subur, kecuali sedikit dataran yang sempit di dekat pantai utaranya. Terdapat beberapa puncak bukit yang menjulang tidak lebih dari 250-an meter. Tanah kritis dan perbukitan gundul merupakan pandangan mata yang lebih menyolok, terutama di selatan bila dibanding dengan di bagian utara Sawu.

Di beberapa tempat di utara ada sejumlah mata air. Kecuali sungai-sungai di utara pulau yang karena berasal dari beberapa mata air itu, dapat mengalirkan air sepanjang tahun, sungai-sungai kicil yang menghanyutkan tanah erosi ke laut pada musim hujan segera kering kembali begitu hujan berhenti. Di musim hujan seluruh jalan yang ada di pulau ini, sekitar 110 km dan merupakan tinggalan Belanda dahulu, praktis tak bisa lagi dilewati segala macam kendaraan.

Kuda juga dipakai di pantai untuk menyambut tamu yang datang dengan kapal

Di Sawu ada dua pelabuhan utama yang disinggahi perahu layar dan juga oleh kapal motor. Yakni pelabuhan Haba di barat, untuk musim kemarau. Oleh gelombang besar di musim hujan yang digunakan ialah Bolou di timur. Selain itu masih ada sejumlah kecil pelabuhan kecil bagi perahu-perahu penduduk, tiga di antaranya menjadi jalur hubungan laut ke Kupang, Sumba dan Ende.

Wabah penyakit yang dulu melanda Sawu dan Raijua telah amat mempengaruhi jumlah penduduk kepualaun ini. Cacar yang meminta korban jiwa di tahun 1869 membuat Sawu dan Raijua kehilangan hampir seperenam jumlah mereka. Wabah kolera di tahun 1874 dan berulang tahun 1888 antara lain membuat rakyat kedua pulau itu baru sekitar tahun 1925 mencapai jumlah semula. Satu hal perlu dicatat, bahwa data jumlah penduduk, baik mobilitas maupun pertambahan alamiahnya sangat terbatas.

Mobilitas ke luar Sawu dapat disebutkan bahwa sejak saat kontrak antara Sawu dengan Belanda ditandatangani (1756) telah ditetapkan bahwa Sawu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah buat melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761. Juga dalam peperangan di Penfui peranan tenaga militer Sawu cukup penting

Ketrampilan orang Sawu di bidang militer ini, ditambah dengan keberanian mereka, meluaskan keterlibatan mereka; antara lain ekspedisi di tahun 1838 untuk menghentikan kebiasaan orang Ende untuk menyerang Sumba demi mendapatkan budak. Sedangkan emigrasi orang Sawu ke Sumba yang diawali oleh hubungan perkawinan antara “raja” Melolo di Sumba Timur dan “raja” Sawu di Haba, kemudiannya berkembang menjadi perkampungan Sawu di Sumba Timur, khususnya tahun 1876 dilaporkan bahwa jumlah orang Sawu di Sumba sudah cukup besar sehingga menunjukkan semacam supremasi, namun menjelang 1890 emigrasi ini – biarpun didorong-dorong pemerintah Belanda— berjalan lamban betul, yakni akibat epidemi di Sawu tersebut.

Emigran dari Sawu umumnya meneruskan cara hidup tradisionalnya di permukiman yang baru ini. Sebagai penyadap nira dan berladang. Namun emigrasi di masa-masa berikutnya lebih didorong oleh kehausan akan pendidikan lanjutan atau untuk mendapat lapangan kerja yang lebih sesuai. Khususnya di Kupang, menyusul di Ende lalu Sumba, atau sama sekali menuju Surabaya. Selain itu mobilitas penduduk di Sawu juga terjadi akibat migrasi musiman. Umumnya di antara selewat panen, yaitu sehabis upacara hole (upacara puncak pada akhir musim hujan, bulan April) dan menjelang masa ko’o ma (kegiatan menyiapkan ladang pada bulan November).

Bagi beberapa suku di Indonesia, kebudayaan itu adalah sekaligus agama dan kepercayaan mereka. Demikian pun halnya dengan orang Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah tulisan menarik berjudul “At the Union of Sun and Moon” oleh James J.Fox. Seorang antropolog keturunan Amerika Serikat yang bermukim di Australia. Terjemahan tulisan itu dapat diartikan : “Dikala Surya dan Rembulan memadu cinta”. Betapa tidak, karena memang sama seperti yang diungkapkan Fox dalam tulisan ini, maka seluruh keaktifan religious budaya orang Sawu mencapai puncaknya pada hari-hari dalam sebulan dikala bula berpadu dengan matahari.

Ini terjadi biasanya pada waktu bulan purnama penuh. Pada saat-saat itu disiang hari, orang Sawu bertaji ayam. Ayam yang kalah dibagi-bagikan kepada penonton, dan sebahagian dagingnya dipersembahkan diatas batu megalit sebagai makanan dewa-dewi.

Di malam hari dikala bulan pernama pada saat-saat istimewa orang Sawu terlibat dalam satu tarian yang bernama pedoa. Tarian ini dilakukan oleh pria dan wanita dengan saling merangkul punggung, dalam bentuk lingkaran dan menyanyi bersama dalam syair dan puisi sambil menghentakkan kaki ketanah sesuai dengan irama lagu tersebut.

Tari Pedoa

Semua upacara itu tidak lain adalah pengungkapan dari rasa syukur orang Sawu terhadap keberhasilan hasil panen dan ternak yang diakibatkan oleh adanya perpaduan cinta atau perkawinan antara dewa surya dan dewi rembulan.

Kepercayaan yang sedemikian telah mencipkatan suatu etika yang tersendiri dalam kehidupan orang Sawu. Etos yang dimaksudkan adalah etos kerja yang menekankan pada kerja keras tanpa pamrih atau tanpa mengharapkan pahala. Jadi, orang Sawu kerja keras di dunia ini bukan untuk memperoleh pahala di surga. Sebaliknya, hidup sejahtera di dunia ini adalah akibat dari adegan sorgawi itu dapat terlaksana terus menerus di dunia ini, kini dan di sini.

Fox dalam berbagai tulisannya (umpamanya Harverst of the Palm) mencatat bahwa dari daun lontar orang Sawu membuat atap rumah, tempat makan dan minum, serta tikar dan bantal untuk tidsur. Dari air lontar yang manis. Orang Sawu memperoleh minuman yang enak, membuat gula, dan juga menjadikannya minuman ternak.

Pohon lontar dijadikan tiang dan lantai rumah. Kesemuanya itu menunjukkan etos kerja orang Sawu dan sikap penghargaan yang besar terhadap hidup. Hidup bagi orang Sawu, barulah berarti jika dikerjakan untuk memelihara kesinambungan perpaduan cinta antara yang sorgawi dengan yang duniawi. Penghargaan terhadap hidup sebagai perpaduan cinta seperti yang dimaksudkan itu telah mewarnai pula bentuk dan isi kalender penanggalan Sawu, yang juga membagi waktu setahun dalam 12 bulan.

Di kalangan orang Sawu berlaku pengelompokan secara adat ke dalam kelompok-kelompok orang Haba (= Do Haba), orang Mahara (=Do Mahara), orang Liae (=Do Liae) dan orang Dimu (Do Dimu)yang menempati tanah milik masing-masing. Mereka masing-masing dipersatukan oleh garis keturunan dari leluhbur asal yang dianggap datang pertama kali ke tanah masing-masing (Nico L.Kana: 1982),

Meskipun tiap kelompok beranggapan sebagai kelompok tersendiri dengan tanahnya sendiri pula, namun hubungan antara mereka diakui ada, yakni sebagai kakak-beradik di tingkat para leluhur dulu kala. Orang Haba tertua, orang Mahara dan Liae di tengah dan orang Dimu bungsunya. Namun orang Raijua alias Do Raijua di Pulau Raijua dianggap sebagai kakak oleh kesemua orang di Sawu.

Wednesday, 8 September 2010

Surat dari Tuhan

Surat dari Tuhan
KEPADA : KAMU
TANGGAL : HARI INI
DARI : AKU
PERIHAL : DIRI KAMU

Ini Aku,
hari ini Aku yg akan menangani semua masalahmu..

Catatan : Dan ingat,
Bila dunia ini menyodorkan masalah yg tdk dpt kau tangani sendiri, jgn berusaha menyelesaikan masalah itu.
Ttp, letakkanlah saja masalah itu diBoxku utk kuselesaikan..
Aku akan menyelesaikan masalahmu sesuai JADWAL yg Aku tentukan sendiri.
Semua masalahmu PASTI akan Aku selesaikan, ttp sesuai jadwalKu,.. bkn jadwalmu.
Stlh semua masalahmu kmu letakkan dalam box, jgnlah kamu pikirkan & khawatirkan. Sebaliknya, fokuslah kpd semua hal2 baik yg sdg terjadi padamu skrg.

Bila kmu terjebak kemacetan dijalan, jgnlah marah,sebab msh byk org didunia ini yg tdk pernah naik mobil seumur hidupnya.

Bila kmu berhadapan dgn masalah di tempat kerja, berpikirlah bhw msh byk org yg menganggur bertahun2 tanpa pekerjaan.

Bila kamu sedih krn hub keluarga, pikirkanlah org2 yg blm pernah merasakan mencintai Ñ dicintai.

Bila km merasa bosan dgn akhir minggu, pikirkanlah org2 yg hrs lembur siang malam tanpa libur utk menghidupi keluarga & anak2nya.

Bila kendaraanmu mogok & mengharuskan km berjalan kaki, jgnlah marah, pikirkanlah org2 cacat yg sgt ingin merasakan berjalan diatas kaki sendiri.

Bila km melihat dicermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih, sebab mempunyai rambut hanyalah merupakan impian bagi org2 yg dlm perawatan kemoterapi.

Bila kmu merenungi makna hidupmu didunia ini & merenungi apa tujuan hidup mu ini? Bersyukurlah, krn byk org yg tdk punya kesempatan hidup yg cukup lama utk merenungi hidup mereka.

Bila kmu merasa tdk nyaman krn terkena imbas dr kemarahan & kekecewaan org lain, ingatlah, situasi bisa menjadi jauh lebih buruk; yaitu kamulah yg merasakan kemarahan & kekecewaan tsb!

Bila kmu memutuskan utk meneruskan surat ini ke org lain,terima kasih.
Km telah menyentuh kehidupan mereka dlm byk hal yg tdk pernah kamu bayangkan... AKU tdk pernah putus menyayangimu..:)

Peluk cium untukmu,
TUHANmu

Wednesday, 1 September 2010

Arti Mama buat aku

Hari ini aku coba ngotak ngatik blog ini,udah lama banget ga buka blog ini.
Banyak hal sebenranya ingin aku ceritain disini.
Tadi sempat buka Facebook,terharu saat baca update status Mario Teguh
isinya begini
" Sebagai Ibu rumah tangga, janganlah pernah katakan: Saya hanya mengurus suami dan anak-anak.

Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di muka bumi ini daripada memelihara, menumbuhkan, dan membesarkan keluarga yang baik.

Saya sangat bersyukur bahwa Ibunda saya, Sitti Marwiyah memimpin langsung pemeliharaan dan perawatan pert...umbuhan saya dan adik-adik, sampai akhir hayat beliau.

Ibu, damailah bersama Tuhan"

Mungkin saat ini atau sudah dari dulu menyadari betapa berartinya seorang ibu buat beliau,dan disaat beliau menulis hal ini ibunda beliua sudah tenang bersama Tuhan.

Aku teringat akan Mama,yang dengan segala kekuatannya membesarkan kami anak-anaknya,.
Ibu adalah orang tersukses yang pernah ada dalam hidupku,beliau membesarkan kami anak-anaknya dengan segala kesedrhanaan keluarga.
Saat kami sudah beranjak dewasa dan masing masing dari kami menjalani hidup,ada yang menikah,ikut dengan suaminya,tinggal Mama sendiri yang hanya dikunjungi kami sesekali.
Mama wanita yang kuat,tak pernah kulihat Mama menangis untuk hal-hal berat yang pernah dialaminya,.
Tak pernah ada sedikit pengeluhan keluar dari mulutnya saat menghadapi kerasnya kehidupan,dimana harus hidup sendiri.
Setiap kali pulang ke rumah,aku sering ngobrol sama Mama,bercanda,walau Mama kadang ga begitu suka becanda.:)
Saat aku pamit untuk balik ke Jakarta,Mama selalu mengusap kepala sambil berkata dengan logatnya "Ama,jalan bae bae eee..Ingat berdoa terus"
Rasanya mau nangis,cuman aku pasti bilang,"Iya Mama,kan bukan anak kici lagi'
Mama,kenapa maam ini aku begitu kangen sama Mama..
hmmm..udah cukup aku nulis blog,aku cuma mau bilang Aku sayang Mama.

Sunday, 15 November 2009

Praise to Lord

Semuanya berjalan tak seperti yang kuduga,.
Lewat blog ini aku ingin berbagi tentang kehidupanku,.
Aku terlahir dari keluarga yang sederhana,dari kehidupan keluarga yang bahagia dengan banyak saudara.
Aku amat mencintai mereka semua,mulai dari Alm. Ayahku,Ibunda tercinta dan semua saudariku dan satu-satunya saudara ku.
Banyak keberuntungan yang sering berpihak kepadaku,dan semua itu hanya karena kasih dan kebesaran Tuhan dalam hidupku,.
Aku yang aku tahu dari sepanjang perjalananku adalah aku tak pernah mengeluh.Dalam kondisi yang sulit sekalipun aku mampu tersenyum.
Hal itu yang membuat berkat Tuhan selalu kurasakan..
Terima kasih Tuhan buat penyertaanMu

Saturday, 25 April 2009

Kehidupan itu tidak selalu menawarkan segala sesuatu yang indah.
Lebih banyak hal yang tidak menyenangkan yang disodorkan kepada kita dibandingkan menu-menu yang kita sukai,.
Perlu pemahaman yang mendalam tentang makna hidup sebenarnya,.
Bahkan di saat kita kehilangan sesuatu yang menurut kita sangat berarti buad hidup kita,.

Suatu saat dalam kehidupan,saya merasa tidak bersahabat dengan diri saya.
Saya merasa bahwa saya memusuhi diri saya sendiri dengan sangat luar biasa,
Pada saat itulah saya merasa kesepian dan sendiri.

Menyenangkan bagi orang yang bisa bersahabat dengan dirinya sendiri,bahkan disaat dia sendiri.Kedewasaan berpikirlah yang akan mengantarkan kita menuju hal tersebut.

Saat ini aku menginginkan kedamaian dalam hidup,jauh dari rasa bersalah,pikiran yang kacau dan semua ketidaknyamanan ini. Tapi setiap saat ada masalh yang datang,dan setiap saat itu pula saya selalu berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan lebih bijak..Perlu waktu untuk bisa dewasa,dan bukanlah sesuatu yang instant untuk menjadi dewasa.

Kadang aku memilih untuk diam,tapi tidak dengan diam semua masalah itu teratasi,bahkan kadang saya yang menjadi terkurung dalam rasa bersalah. Hidup memang tak mudah,tak semudah yang dibayangkan tapi aku selalu berusaha untuk menjadilebih baik..

Monday, 6 April 2009

Sedikit tentang Sabu

KEADAAN UMUM

Pulau Sabu atau Rai Hawu adalah bagian Kabupaten Kupang. Merupakan pulau terpencil dengan luas 460,78 km persegi berpenduduk sekitar 30.000 jiwa dengan sifat mobilitas tinggi. Karena itu penyebarannya keseluruh Nusa Tenggara Timur cukup menyolok. Dari Kabupaten Kupang Pulau tersebut dapat dijangkau dengan kapal laut selama 12 jam berlayar atau 45 menit dengan pesawat

PELAPISAN SOSIAL
Legenda menuturkan, nenek moyang orang Sabu datang dari seberang yang disebut Bou dakka ti dara dahi, agati kolo rai ahhu rai panr hu ude kolo robo. Artinya, orang yang datang dari laut, dari tempat jauh sekali, lalu bermukim dipulau Sabu. Orang pertama adalah Kika Ga dan kakanya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu) yang ada sekarang. Nama Rai Hawu atau pulau Sabu berasal dari nama Hawu Ga, salah satu leluhur mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat suku Sabu hidup dalam kekerabatan keluarga batih (Ayah, ibu dan anak) disebut Hewue dara ammu.

Beberapa batih yag bersekutu dalam suatu upacara adat adalah keluarga luas, huwue kaba gatti, dengan memiliki rumah adat sendiri berketurunan satu nenk atau Heidau Appu. Klen kecil disebut Hewue Kerogo, merupakan gabungan beberapa Udu Dara Ammu. Keturunan dua atau tiga nenek bersaudara, beserta cucu dan keturunannya dipimpin Kattu Kerogo. Klen besar disebit Hewue Udu dipimpin oleh banggu Udu.Secara struktural dalam strata masyarakat dikenal kedudukan tertinggi Hewue Dara Ammu dengan pimpinannya Kattu Udu Dara Ammu yang memimpin upacara, mengatur norma kehidupan, menjaga kesatuan dan persatuan keluarga. Ia pemimpin yang pandai dan bijaksana berperan penting dalam kehidupan masyarakat.


Kemudian ada hewue Kerogo dipimpin Kattu Kerogo yang mengatur kehidupan Kerogo. Mereka berhak menyatakan pendapat dan hak pakai atas tanah milik Kerogo. Kemudian Hewue Adu dipimpin Banggu Adu mengatur hak pakai tanah untuk Ana Udu karena mempunyai hak ulayat. Setiap penggarapan tanah oleh anggota Udu harus diketahui Banggu Udu. Mereka (Udu) juga tidak dikenakan Ihi Rai, sejenis Upeti yakni sebagian hasil panen diberikan kepada Banggu Udu sebagai tanda mengakui menggarap tanah milik orang lain.
Anggota-anggota Udu harus taat kepada Banggu Udu terutama dalam hal bergotong royong. Banggu Udu akan segera turun tangan jika ada yang tidak ikut serta atau melawan tanpa alasan.

MATA PENCAHARIAN

Kehidupan mereka terutama tergantung dari lahan pertanian kering, beternak, menangkap ikan, melakukan kerajinan dan berdagang serta membuat gula Sabu dari Nira lontar. Semuanya tidak dikerjakan secara terpisah. Seorang petanji mengerjakan juga pekerjaan lainnya, karena mereka memiliki kalender kerja yang bertumupu pada adat. Semuanya dikerjakan secara tradisional seperti menangkap ikan dengan lukah, bubuh, jala, pukat dan pancing.

Kerajinan yang menonjol adalah tenun ikat dengan warna dasar cerah, dan menganyam daunp pandan. Semua pekerjaan ini hampir tidak bernilai komersial karena masih untuk kebutuhan sendiri, seperti halnya membuat gula Sabu sejenis gula Rote, yang menjadi makanan utama. Namun perkembangan jaman menyebabkan mereka juga menanam tanaman perdagangan seperti bawang merah dan kacang tanah untuk dipasarka. Kacang tanah berkulit yang digoreng bersama pasir, merupakan kekhasan mereka sebagai makanan kecil diwaktu senggang.

Cara bertanam masih sangat tradisonal dengan melepaskan ternak tanpa kandang. Jumlah ternak justru menunjukkan status sosial seseorang. Hewan/ternak piaraan lebih berfungsi sosial ketimbang bernilai ekonomi terutama kuda, kerbau dan domba/kambing. Ternak ini sering menjadi pemenuhan kebutuhan upacara adat seperti kalahiran, perkawinan dan kematian, termasuk untuk upacara sakral, magis religius.

SISTEM KEPERCAYAAN

Masyarakat Sabu menganut agama asli jingitiu sebelum agama kristen. Kini 80 % mastyarakat Sabu beragama kristen protestan. Walaupun begitu, pola pikir mereka masih didukung jingitu. Norma kepercayaan mereka masih tetap berlaku dengan kelender adat yang menentukan saat menanam dan upacara lainnya.
Norma kepercayaan asli masih menerapkan ketentuan hidup adat atau uku, yang konon dipercayai mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka. Semua yang ada dibmi ini Rai Wawa (tanah bawah) berasal dari Deo Ama atau Deo moro dee penyi (dewa mengumpulkan membentuk mancipta). Deo Ama sangat dihormati sekaligus ditakuti, penuh misteri. Menurut kepercayaan itu dibawah Deo Ama terdapat berbagai roh yang mengatur kegiatan musim seperti kemarau oleh Pulodo Wadu, musim hujan oleh Deo Rai.

Pembersihan setelah ada pelanggaran harus dilakukan melalui Ruwe, sementara Deo Heleo merupakan dewa pengawas supervisi. Upacara adat yang dilakukan harus oleh deo Pahami, orang yang dilantik dan diurapi. Upacara dilakukan dengan sajian pemotongan hewan besar. Kegiatan setiap upacara berpusat pada pokok kehidupan yakni pertanian, peternakan dan penggarapan laut. Karena itu selalu ada dewa atau tokoh gaib untuk semua kegiatan, termasuk menyadap nira. Kegiatan pada musim hujan berfungsi pada tokoh dewa wanita “Putri Agung”, Banni Ae, disamping dewa pemberi kesuburan dan kehijauan Deo manguru. Karena sangat bergantung pada iklim maka mereka memiliki tiga makluk gaib yakni liru balla (langit), rai balla (bumi) dan dahi balla (laut). Masyarakat Sabu juga emiliki pembawa hujan yaitu angin barat : wa lole, selatan : lou lole dari Timur: dimu lole. Begitu banyak dewa atau tokoh gaib sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti petir dan awan. Begitu juga pada usaha penyadapan nira, ada dewa mayang, dewa penjaga wadah penampung (haik) malah sampai haba hawu dan jiwa hode yang menjaga kayu bakar agar cukup untuk memasak gula Sabu.

Kampung masyarakat Sabu memiliki Uli rae, penjaga kampung, kemudi kampung bagian dalam gerbang Timur (maki rae) disebelahnya, serta aji rae dan tiba rae, (penangkiskampung) sama-sama melindungi kampung.

Oleh karena itu setiap rumah dibangun harus dengan upacara untuk memberi semangat atau hamanga dengan ungkapan wie we worara webahi (jadikanlah seperti tembaga besi. Dalam setiap rumah diusahakan tempat upacara yang dilakukan sesuai musim dan kebutuhan, karena semua warga rumah yang sudah meninggal menjadi deo ama deo apu (dewa bapak dewa leluhur) diundang makan sesajen. Demikian juga terhadap ternak, selalu ada dewa penjaga, disebut deo pada untuk kambing serta dewa mone bala untuk gembalanya. Tetapi selalu ada saja lawannya. Karena itu, ada dewa perussak yang kebetulan tinggal dilat yakni wango dan merupakan asal dari segala macam penyakit. Hama tanaman, angin ribut dan segala bencana.

Karena itu, kepadanya harus dibuat upacara khusus untuk mengembalikannya ke laut supaya masyarakat terhindar dari berbagai bencana walaupun ada kepercayaan bahwa sebagai musibah itu merupakan kesalahanmanusia sendiri yang lalai membuat upacara adat. Umpamanya jika tidak membuat upacara untuk sang banni ae, maka sang putri ini akan memeras payudaranya yang menimpa manusia menimbulkan penyakit cacar.

BAHASA PERGAULAN
Pulau Sabu secara pemerintahan termasuk Kabupaten Kupang, namun dalam pembagian wilayah pesebarannya, bahasa sabu termasuk kelompok bahasa Bima – Sumba. Bahasa Sabu mencakup dialek Raijua (di pulau Raijua). Dialek Mesara, Timu dan seba.

SENI DALAM MASYARAKAT SABU

Kesenian yang paling menonjol adalah seni tari dan tenun ikat. Seni tari antara lain padoa dan ledo hau. Padoa ditarikan pria dan wanita sambil bergandengan tangan, berderet melingkar, menggerakkan kaki searah jarum jam, dihentakkan sesuai irama tertentu menurut nyanyian meno pejo, diiringi pedue yang diikat pada pergelangan kaki para penari. Pedue ialah anyaman daun lontar berbentuk ketupat yang diisi kacang hijau secukupnya sehingga menimbulkan suara sesuai irama kaki yang dihentak-hentakkan. Ledo Hau dilakukan berpasangan pria dan wanita diiringi gong dan tambur serta giring-giring pada kaki pria. Hentakan kaki, lenggang dan pandangan merupakan gerakan utama. Gerakan lain dalam tarian ini ialah gerakan para pria yang saling memotong dengan klewang yang menjadi perlengkapan tari para pria.

Tenun ikat mereka yang terkenal adalah si hawu (sarung sabu) dan higi huri (selimut). Mereka melakukan semua proses seperti umumnya di Nusa Tengggara Timur. Benang direntangkan pada langa (kayu perentang khusus) supaya mudah mengikatnya sesuai motif, setelah dilumuri lilin. Pencelupan dilakukan dengan empat warna dasar yakni biru pekat dan hitam, diperoleh ramuannya dari nila, merah dari mengkudu dan kuning dari kunyit.
Motif yang dikenal antara lain flora dan fauna serta motif geometris. Setelah itu benang tersebut direntangkan kembali pada langamane (alat tenun) untuk memulai proses tenun.

Friday, 27 February 2009

Tentang orang Yahudi

Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya ingin berbagi informasi yang saya peroleh dari membaca terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari Universitas Massachuset USA tentang penelitian yang dilakukan oleh DR.Stephen Carr Leon. Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi.

Mengapa Orang Yahudi, rata-rata pintar ? Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut :

Ternyata, bila seorang Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika, mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.

Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).

Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging , hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.

Yang istimewa lagi adalah: Di Isarel, merokok itu tabu! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi "gen" atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi "bodoh" atau "dungu".

Walaupun, kalau kita perhatikan, maka penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi ! Tetapi yang merokok, bukan orang Yahudi.

Anak-anak, selalu diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan.

Mereka juga harus pandai bahasa, minimum 3 bahasa harus dikuasai nya yaitu Hebrew, Arab dan bahasa Inggris. Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola. Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka. Irama musik terutama musik klasik dapat menstimulasi sel otak. Sebagian besar dari musikus genius dunia adalah orang Yahudi.

Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar.

Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design "Levis" terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas "business and fashion".

Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk "fokus" dalam berpikir !

Di New York, ada pusat Yahudi yang mengembangkan berbagai kiat

berbisnis kelas dunia. Disini terdapat banyak sekali kegiatan yang

mendalami segi-segi bisnis sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya. Dalam arti mempelajari aspek bisnis yang berkaitan juga dengan budaya bangsa pangsa pasar mereka. Pendalaman yang bergiat nyaris seperti laboratorium, "research and development" khusus perdagangan dan bisnis ini dibiayai oleh para konglomerat Yahudi.

Tidak mengherankan bila kemudian kita melihat keberhasilan orang Yahudi seperti terlihat pada : Starbuck, Dell Computer, Cocacola, DKNY, Oracle. pusat film Hollywood, Levis dan Dunkin Donat.

Khusus tentang rokok, negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura. Di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah

7 US Dollar, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga 70 sen US Dollar. Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel , bahwa nekotin hanya akan menghasilkan generasai yang "Bodoh" dan "Dungu".

Percaya atau tidak, tentunya terserah kita semua. Namun kenyataan yang ada terlihat bahwa memang banyak sekali orang yahudi yang pintar !

Tinggal, pertanyaannya adalah, apakah kepintarannya itu banyak manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup umat manusia secara keseluruhan.

My beloved sabu Island, my motherland

My beloved sabu Island, my motherland
I Love my Island

Blog Archive